Uji Kualitatif Pewarna Tambahan

 


Halo readers!

Kembali lagi di Jurnal Berpikir Tiara setelah vakum beberapa bulan. Kali ini saya ingin menjelaskan bagaimana cara menganalisis pewarna tambahan metode kualitatif pada makanan. Ohiya artikel ini untuk metode pembelajaran ya, berhubung saya sedang Project Work (praktik kerja lapangan di sekolah) maka dari itu saya ingin membagi sedikit pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki. Sebelum mengetahui apa itu uji pewarna tambahan, yuk simak terlebih dahulu pengertian dari pewarna tambahan.

Pewarna Makanan itu Apa sih?

Bahan pewarna makanan terbagi dalam dua kelompok yaitu pewarna alami dan pewarna buatan. Di Indonesia, peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur melalui SK Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan tambahan pangan. Akan tetapi seringkali terjadi penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk bahan pangan, misalnya zat pewarna untuk tekstil dan kulit dipakai untuk mewarnai bahan pangan. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan karena adanya residu logam pada zat pewarna tersebut.

Pewarna alami diperoleh dari tanaman ataupun hewan yang berupa pigmen. Beberapa pigmen alami yang banyak terdapat di sekitar kita antara lain: klorofil (terdapat pada daun-daun bewarna hijau), karotenoid (terdapat pada wortel dan sayuran lain bewarna oranye-merah). 

Pewarna buatan adalah pewarna yang digunakan untuk mewarnai makanan yang diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang menggunakan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi.

Uji Kualitatif Pewarna Tambahan 

Zat warna pada dalam sampel diekstraksi terlebih dahulu menggunakan metode serapan benang wol. Prinsipnya adalah penarikan zat warna dari sampel ke dalam benang wol bebas lemak dalam suasana asam dengan pemanasan dilanjutkan dengan pelunturan atau pelarutan warna oleh suatu basa. Benang wol tersusun atas ikatan peptida yang di dalamnya terdapat ikatan sistina, asam aspartic dan arginin.

Analisis uji pewarna tambahan sesuai dengan prosedur yang ada di SNI 01-2895-1992 Cara Uji Pewarna Tambahan. Mengacu pada nomer 3.1.4.2.4 butir 3 dan 4. disana tertera pengujian makanan yang nerkomponen utama pati.

Produk yang akan dianalisis adalah produk manisan buah mangga kering pedas, yang memakai pewarna tambahan tartrazin.

Pengertian Tartrazine

Tartrazin atau yang dikenal juga sebagai (E102 atau FD&C Yellow 5) adalah pewarna kuning lemon sintesis yang umum digunakan sebagai pewarna makanan. Tartrazin digunakan pada makanan dan minuman. Struktur kimia tartrazin adalah C16H9N4Na3O9S2.

produk manisan
buah mangga kering pedas 


Prosedur Analisis Pewarna Makanan Tambahan

Sebelum melakukan pengujian, alangkah baiknya kita memakai Alat Pelindung Diri (APD). APD terdiri dari jas lab, sarung tangan, sepatu, dan masker. Ohiya sebelumnya saya minta maaf karna kami lupa memakai sarung tangan, jadi jangan dicontoh ya teman-teman.

Langkah selanjutnya sebelum pengujian adalah kita harus preparasi sampel, mempersiapkan bahan  dan alat yang digunakan. Sampel dipisah menjadi dua bagia yaitu sampel arsip dan sampel uji lalu diberi label.

sampel yang diuji

Prinsip Analisis

Penyerapan zat warna sampel benang wol dalam suasana asam dengan pemanasan, dilanjutkan dengan pelarutan benang wol yang telah bewarna.

Peralatan

1. Pipet mohr 25 ml
2. Pipet mohr 10 ml
3. Erlenmeyer 100 ml
4. Gelas beaker 250 ml
5. Gelas beaker 100 ml
6. Cawan peguapan
7. Cawan arloji
8. Bulb
9. Pipet tetes
10. Pinset
11. Spatula
12. Shaker
13. Waterbath
14. Hot plate
15. Mortal dan pastel
16. Batang pengaduk
17. Neraca analitik
18. Benang wol bebas lemak

peralatan yang digunakan

Pereaksi

1. Asam Asetat CH3COOH 6%
2. Amonium Hidroksida NH4OH 10%
3. Asam Klorida HCL 36%
4. Natrium Hidroksida NaOH 10%
5. Asam Sulfat H2SO4 pekat
6. Amonia 6% di dalam Etanol 70%

pereaksi yang digunakan


Cara Kerja

1. Masukan sampel ke dalam mortal lalu haluskan dengan pastel

sampel dihaluskan

2. Timbang 10 gr sampel ke dalam erlenmeyer 100 ml

sampel ditimbang di neraca analitik

3. Tambahkan 50 ml amonia 6% di dalam etanol 70% ke dalam sampel

menambahkan 50 ml amonia 6% di dalam Etanol 70%
dengan menggunakan pipet mohr 25 ml


4. Shaker sampel selama 1 jam

menhomogenisasikan
sampel di atas shaker

5. Setelah 1 jam, pindahkan sampel ke dalam cawan penguapan dan diuapkan di atas waterbath

penguapan sampel di atas waterbath

6. Didapatkan residu setelah mendidih dan airnya surut sedikit, lalu dinginkan

hasil residu setelah mendidih dan
 airnya surut sedikit, lalu dinginkan


7. Pindahkan sampel ke dalam beaker gelas 250 ml lalu tambahkan 5 ml asam asetat ke dalam sampel

penambahan 5 ml asam asetat
dengan menggunakan pipet mohr


8. Masukan benang wol yang sudah dipintal ke dalam sampel di beaker gelas, dan panaskan di atas hot plate selama kurang lebih 10 menit sambil diaduk hingga air di dalam beaker gelas sedikit surut

memanaskan sampel sambil
diaduk di atas hot plate


9. Setelah itu cuci benang wol berulang-ulang sampai bersih dari ampas dan buang ampas        tersebut

pencucian benang wol
di aliran air yang mengalir

10. Pindahkan benang wol yang sudah bersih ke gelas beaker baru, lalu diamkan sampai kering

benang wol dikeringkan

11. Potong benang wol menggunakan pinset menjadi empat bagian lalu taruh di cawan arloji, beri label nama empat pereaksi (NaOH 10%, H2SO4 pekat, HCL pekat, dan NH4OH 10%

memotong benang wol menjadi
empat bagian menggunakan dua pinset


12. Teteskan NH4OH 10% sebanyak 1-2 tetes ke benang wol

meneteskan NH4OH 10%
menggunakan pipet tetes


13. Teteskan HCL pekat sebanyak 1-2 tetes ke benang wol

meneteskan HCL pekat 
menggunakan pipet tetes


14. Teteskan H2SO4 pekat sebanyak 1-2 tetes ke benang wol

meneteskan H2SO4 pekat 
menggunakan pipet tetes


15. Teteskan NaOH 10% sebanyak 1-2 tetes ke benang wol

meneteskan NaOH 10% 
menggunakan pipet tetes

 
  
16. Amatilah perubahan warna oleh setiap perekasi pada benang wol      

perubahan warna pada setiap benang wol oleh perekasi, benang wol
yang direaksikan oleh H2SO4 pekat berubah menjad lebih gelap


Hasil dan Kesimpulan 

Sebelum mengamati perubahan warna, kita terlebih dahulu harus mengetahui perubahan warna oleh keempat perekasi pada benang wol yang mengandung tartrazin.

daftar identifikasi dari perubahan warna
benang wol oleh perlakuan berbagai pereaksi

Kesimpulan dan hasil dari uji pewarna tambahan pada produk manisan buah mangga kering pedas yang mengandung pewarna tartrazin, hasilnya ialah dari pereaksi H2SO4 pekat sesuai dengan daftar identifikasi pewarna tartrazin yaitu berubah menjadi lebih gelap. Jadi, produk manisan buah mangga kering pedas ini tidak memakai pewarna tambahan lain selain tartrazin.

Gimana? Cukup menarik bukan? Jika kalian ingin mengambil jurusan seperti di atas, kalian bisa mendaftar sekolah di SMKN 1 Cibadak dengan mengambil jurusan Pengawasan Mutu Hasil Pertanian (Analisis Kimia). Di universitas kalian juga bisa mengambil jurusan ini dengan nama Teknologi Pangan (Tekpang). Oke teman-teman sampai disini ya penjelasannya, semoga bermanfaat. Tschüss! 

Referensi:

[i] Foto Kegiatan
Dokumen Pribadi

[ii] SNI 01-2895-1992, Cara Uji Pewarna Tambahan oleh Badan Standar Nasional (BSN)

[iii] Tartazine C16H9N4Na3O9S2 
https://news.labsatu.com

[iv] Bahan Kimia Berbahaya Pada Makanan (Tartrazina)
https://rinaindrawati.wordpress.com/2010/05/19/bahan-kimia-berbahaya-pada-makanan tartrazina

[v] Laporan Uji Kualitatif dan Kuantitatif Pewarna Pada MAKANAN
hhtps://tonimpa.wordpress.com/laporan/kimia-pangan/laporan-uji-kualitatif-dan-kuantitatif-pewarna-pada-makanan/
    

Comments

Popular posts from this blog

Teknik Menggambar Zentangle

Pengakuan